Caleg DPR RI Jual Mobil Untuk Biaya Kampanye

PANDEGLANG – Calon Anggota DPR RI asal PPP Dapil Banten 1 Pandeglang-Lebak, Usep Saepudin terpaksa akan menjual mobil kesayangannya. Dia mengaku saat ini kehabisan dana untuk perjalanan kampanye. Mobil tua yang dijulukinya “Si Ubrug” itu ditawarkan dengan harga Rp10 juta.

“Bertahun-tahun Si Ubrug ini menemani saya, tapi sepertinya harus saya lepas. Perjalanan kampanye tinggal menghitung hari, saya harus bergerak secara massif. Dan tentunya ketika turun sosialisasi ke masyarakat harus punya modal,” kata Usep.

Pada kontestasi Pileg 2019 ini, kata Usep, dia harus bersaing dalam merebut hati rakyat dengan sejumlah politisi tersohor. Dia juga menyebut, ada tiga dinasti yang menjadi pesaing berat di Dapilnya, yakni dinasti Dimyati Natakusumah (mantan Bupati Pandeglang), dinasti Mulyadi Jayabaya alias JB (mantan Bupati Lebak), dan dinasti Ratu Atut Chosiah (mantan Gubernur Banten).

Pada Pileg 2019 ini, Dimyati beserta kedua anaknya sama-sama maju di Dapil Banten 1. Dia sendiri maju melalui PKS, sementara kedua anaknya, yakni Rizka Amalia R Natakusumah maju melalui partai NasDem dan Rizki Aulia Rahman Natakusumah maju dari Partai Demokrat.

Yang kedua dinasti Jayabaya. Pada Pileg 2019 ini, dua anggota keluarga mantan Bupati Lebak dua periode itu, maju di Dapil yang sama, yakni M Hasbi Asyidiqi Jayabaya dari PDIP dan Vivi Sumantri Jayabaya dari Demokrat. Keduanya merupakan Caleg petahana di Dapil tersebut.

Terakhir dari keluarga Ratu Atut Chosiah, menantunya Adde Rosi Choerunnisa maju dari Partai Golkar. Sebelumnya di Dapil ini pula, suami Adde, Andika Hazrumy menjabat anggota DPR RI, sebelum kemudian mencalonkan diri sebagai wakil Gubernur Banten mendampingi Wahidin Halim, dan terpilih.

Pada Pileg 2014 lalu, Andika menjadi Caleg DPR RI Dapil Banten 1 peraih suara tertinggi, di Kabupaten Pandeglang meraih 32.909 suara, dan di Kabupaten Lebak meraih 37.937 suara.

“Si Ubrug terpaksa harus dijual untuk (modal) melawan tiga dinasti itu. Dari sejak menjadi mahasiswa sampai saat ini, saya masih konsisten anti dinasti,” tandasnya.

Berdasarkan hasil penelusuran, saat kuliah dulu, mantan aktivis pergerakan mahasiswa asal UIN Banten itu sering meneriakan anti dinasti di jalanan dan cukup aktif dalam mengkritisi beberapa kebijakan Guberenur Banten saat itu, Ratu Atut Chosiah, yang dinilai tidak pro terhadap rakyat.

Pria 32 tahun asal Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang ini pun sempat meringkuk di dalam jeruji besi Polres Serang selama beberapa hari pada Oktober 2011 lalu karena dinilai melanggar prosedur demonstrasi saat menggelar aksi unjuk rasa hari sumpah pemuda. (Oriel)