Kemendikbud Sebut Pemahaman Guru Soal Sejarah Lokal Masih Rendah

PANDEGLANG – Direktur Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), Triana Wulandari menyebutkan, bahwa pemahaman dan minat guru sejarah untuk menggali tentang sejarah lokal di daerah masih sangat rendah. Bahkan bisa dikatakan, guru sejarah tidak pernah mengajarkan bagaimana menggali cerita dan nilai sejarah lokal.

Akibat hal itu banyak siswa siswi yang tidak mengetahui historis daerahnya sendiri. Padahal dengan mempelajari sejarah lokal, para pelajar bisa lebih menghargai perjuangan yang sudah dilakukan pendahulunya.

“banyak anak-anak yang tidak mengerti sejarah dirinya sendiri. Guru sejarah harus menyadari sejarah sebagai pengikat jati diri bangsa melalui penggalian sejarah lokal, penulisan sejarah lokal,” ujar Direktur Sejarah Kemendikbud, ketika menghadiri acara pemutaran Film Inspiratif yang digelar Kemendikbud di Gedung Pancasila Senin (26/11/2018) pagi.

Menurut Triana, selama ini Kemendikbud sudah seringkali menggelar workshop bagi guru sejarah melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sejarah (MGMPS) selama 8 tahun terakhir. Hanya saja harus diakui bahwa hal itu belum berdampak signifikan.

“Kami sudah menggelar workshop bagi guru sejarah melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sejarah selama 8 tahun. Bagaimana mengajarkan guru mengenai penulisan sejarah lokal karena ada metodologinya,” imbuhnya.

“Saya berharap guru sejarah di pandeglang semangat mengajari sejarah lokalnya sebelum mengajari sejarah nasional,” harapnya.

Sementara itu, Dewan Pendidikan Kabupaten Pandeglang, Eka Supriatna mengatakan bila persoalan sejarah sudah menjadi perhatian pemerintah.

“Sekarang di dinas sudah ada bidang yang menangani soal sejarah, situs, dan budaya. Itu adalah upaya untuk memberi pemahaman kepada generasi muda dari berbagai jenjang agar mengenal dan memahami leluhur budaya yang ada di daerah,” jelas Eka.

Akan tetapi implementasinya diakui belum berjalan sesuai harapan. Salah satu kendala yang dihadapi di Pandeglang, yakni perihal keterbatasan anggaran. Alokasi yang dikucurkan pemerintah setempat tergolong rendah.

“Padahal itu sangat urgen untuk memberi pemahaman terhadap peserta didik akan khasanah budaya di Pandeglang supaya mereka tahu. Jangan sampai generasi muda tidak tahu sejarah berdirinya Pandeglang,” tegasnya.

Eka mengingatkan agar pemerintah hadir dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam hal keingunan tahuannya terhadap produk yang memiliki nilai historis dan sinopsis yang ada di daerah.

“Dengan begitu, generasi muda dapat ikut menjadi bagian dalam menjaga dan melestarikan sejarah panjang Pandeglang,” tutupnya. (Gatot)