Kisruh Karang Sari, Pemda & Ahli Waris Ancam Saling Lapor

FAKTA PANDEGLANG – Insiden penutupan objek wisata Karang Sari Carita di wilayah Kecamatan Carita, yang terjadi Jumat (22/6/18) kemarin oleh pihak ahli waris Unus bin Saripan, kedua belah pihak antara Pemerintah Daerah (Pemda) Pandeglang melalui Dinas Pariwisata dan pihak ahli waris berujung ancam saling lapor kepada pihak yang berwajib.

Ancaman saling lapor tersebut, yaitu dari pihak ahli waris akan melaporkan pelaku pengrusakan pagar rantai penutupan gerbang kawasan wisata Karang Sari. Adapun pelaporan yang akan dilakukan oleh pihak Pemda yaitu, kaitan dengan tindakan penutupan kawasan Karang Sari tersebut.

Alasan Pemda yang akan melakukan laporan atas pelaku penutupan wisata Karang Sari yaitu, aksi penutupan tersebut dianggap telah mengganggu ketertiban umum dan merugikan banyak orang. Adapun alasan ancaman pelaporan yang akan dilakukan oleh pihak ahli waris (Unus bin Saripan) yaitu, karena dugaan pengrusakan terhadap pagar rantai penutup gerbang masuk kawasan Karang Sari.

Menurut kuasa hukum ahli waris Unus bin Saripan, Hoerul Anwar Siregar mengatakan, bahwa aksi penutupan objek wisata Karang Sari itu hak, karena pihak ahli waris menunjukan atas kepemilikan sebagian lahan tersebut. Dirinya juga mengaku, akan melaporkan pelaku pengrusakan terhadap pagar rantai yang dipasang oleh pihak ahli waris kemarin.

“Ahli waris melakukan penutupan terhadap hak miliknya (sebagian lahan Karang Sari). Bagi saya tindakan itu benar-benar saja, adapun di lokasi sempat ribu, maka bagi pelaku-pelaku pengrusakan terhadap rantai penutup kawasan itu akan kita proses secara hukum dan kita akan mengajukan laporan ke Polda Banten,” ungkapnya

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata Pandeglang, Salman Sunardi mengaku, pelaporan harus ada, karena sudah ada fakta dilapangan kaitan dengan aksi penutupan objek wisata Karang Sari tersebut.

“Dengan data yang ada di lapangan, nanti bagian penegak hukum akan menindaklanjuti,” katanya

Terpisah, bagian hukum Pemda Pandeglang, Alan mengaku, aksi penutupan kawasan Karang Sari itu kondisional di lapangan jalannya pariwisata tersebut terganggu. Kalau menyakut kerugian kata Alan, sudah barangtentu ada, selain itu kenyamanan pengunjung terganggu, para pedagang yang melakukan aktivitas di lokasi juga terganggu. Maka pihaknya berharap, jika ada persoalan yang menyangkut lahan, tidak perlu diselesaikan dengan aksi penutupan seperti itu.

“Walaupun ada permasalahan, tapi penyelesaiannya bukan dengan cara seperti itu (penutupan, red). Karena bisa menggangu jalannya pariwisata di lapangan,” tuturnya

Baca : http://faktapandeglang.co.id/kisruh-objek-wisata-karang-sari-carita-ditutup/

Saat ditanya, langkah apa yang akan dilakukan Pemda kaitan dengan sengketa lahan tersebut. Dirinya mengaku, bahwa Pemda masih menunggu hasil putusan Peninjauan Kembali (PK) untuk lahan depan Karang Sari. Jika memang nanti putusan PK sudah keluar, maka pihaknya akan mengajukan permohonan penerbitan sertifikan hak pakai untuk sisa lahan yang seluas 10.950 meter tersebut.

“Adapun untuk sisi pengamanan aset saat ini, Pemda sudah memasang pelang hak kepemilikan atas sisa lahan Karang Sari itu,” ujarnya. (Achuy)