Komisi II Kembali Ungkap Kasus Rastra

FAKTA PANDEGLANG – Jajaran komisi II DPRD Kabupaten Pandeglang, terus melakukan penyelidikan tentang kasus dugaan pengurangan timbangan Beras Sejahtera (Rastra), yang didistribusikan oleh Bulog Montor ke Desa Kutamekar, Kecamatan Sobang dan penggantian Rastra tersebut dengan uang tunai.

Senin (11/12/17) kemarin pihak komisi II mendatangi Bulog sub divre Pandeglang-Lebak, dan hari ini jajaran komisi II tersebut melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke Kecamatan Sobang dan mendatangi gudang Bulog Montor yang ada di Desa Montor, Kecamatan Pagelaran.

Di Kecamatan Sobang, jajaran komisi II itu memintai keterangan dari Kepala Desa (Kades) Kutamekar yakni Markawi dan Datam selaku panitia Rastra Kutamekar.

Setelah melakukan sidak di Sobang, para anggota DPRD dari komisi II tersebut juga langsung mendatangi gudang Bulog Montor. Di lokasi para anggota dewan melakukan pemeriksaan Rastra baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, setelah melakukan pemeriksaan beras di dalam gudang, jajaran komisi juga melakukan audiensi dengan kepala gudang Bulog Montor, untuk memintai keterangan soal adanya kasus pengurangan timbangan dan penggantian Rastra dengan uang tunai tersebut.

Ketua Komisi II DPRD Pandeglang, Rika Kartika Sari mengatakan, kegiatan Sidak yang dilakukannya hari ini merupakan lanjutan sidak yang dilaksanakan Senin kemarin di gudang bulog sub divre Pandeglang-Lebak.

“Dari hasil sub divre Pandeglang-Lebak, bahwa persoalan ini ada di titik bagi. Makanya kami langsung turun lagi ke lapangan, untuk memintai keterangan yang lebih jelas kaitan dengan persoalan ini,” ungkap Rika, Selasa (12/12/17)

Kata Rika, tadi juga di Kantor Kecamatan Sobang ketemu langsung dengan Kades Kutamekar dan panitia Rastranya. Menurut pengakuan Kades bahwa, kaitan dengan adanya penggantian uang itu pihak desa hanya menerima uang sebesar Rp 2, 4 juta dari seseorang yang berinisial U dari pihak gudang Montor.

“Kalau berita yang beredar uang pengganti itu lebih dari Rp. 2,4 juta. Namun pihak desa hanya menerima Rp. 2,4 juta dan menurut Kades uang itu sudah disalurkan kepada warga penerima Rastra sebesar Rp. 570 ribu,” katanya.

Lanjutnya, setelah dipintai keterangan dari pihak bulog Montor, tetapi Kepala Gudang Bulog mengaku tidak pernah melakukan pergantian kekurangan Rastra dengan uang tunai. Namun kepala bulog itu mengaku sudah berupaya mengganti dengan beras lagi, tapi tidak sampai ke lokasi. Karena di tengah jalan pengiriman beras pengganti itu pulang lagi.

“Kepala bulog mengaku tidak mengganti dengan uang tunai. Karena orang yang berinisial U itu tidak ada, maka kami belum mendapatkan keterangan yang lebih jelas lagi,” ujarnya.

Baca : http://faktapandeglang.co.id/telusuri-kasus-rastra-komisi-ii-sidak-ke-bulog/

Rika juga mengaku, hari Kamis (14/12/17) nanti akan melakukan panggilan terhadap sejumlah pegawai bulog, yakni yang berinisial U, N, Kepala Bulog Montor dan pihak Ketahanan Pangan Pandeglang. Karena menurutnya, persoalan itu harus diselesaikan sampai tuntas.

“Kami akan panggil sejumlah pegawai Bulog ke Kantor Komisi II, untuk memintai keterangan lebih lanjutnya. Kami akan terus membongkar persoalan itu sampai tuntas,” tegasnya.

Sementara, Kepala gudang Bulog Montor, Mugi Widodo mengaku, kalau pihaknya sudah pernah berupaya melakukan pergantian Rastra itu dengan beras. Tapi kata dia, penggantian itu tidak sampai jadi, karena saat petugas akan mengirim barang pengganti di pertengahan jalan dipulangkan lagi ke gudang.

“Karena Rastra yang dulu sudah dibagikan kepada masyarakat, akhirnya penggantian kekurangan itu tidak jadi dan dikembalikan lagi ke gudang,” imbuhnya.

Saat ditanya soal adanya penggantian Rastra dengan uang tunai, dirinya mengaku tidak merasa mengganti dengan uang. Bahkan saat disinggung soal pengakuan dari salah seorang petugas Satker yang menyatakan telah mengganti dengan uang tunai. Dodo juga mengaku tidak mengetahui soal tersebut.

“Kalau soal itu saya tidak tahu, karena sebelumnya kami sudah mencoba mengganti dengan beras tapi tidak jadi. Dengan alasan Rastra yang dulu sudah dibagikan,” pungkasnya. (Achuy)