Pemerintah Harus Intens Sosialisasikan Anti Hoax

FAKTA PANDEGLANG – Pemerintah mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten hingga pusat serta pihak lembaga lain harus lebih intens dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya penyebaran informasi hoax dan Undang-undang IT, sebab di zaman yang semakin canggih ini, informasi-informasi tidak bisa dibendung lagi. Oleh sebab itu, agar masyarakat tidak terjebak dalam berita hoax, maka perlu digalakan sosialisasi anti hoax serta aturannya oleh pihak terkait.

Hal tersebut disampaikan oleh Lista Hurusti, salah seorang narasumber dari Peradi di acara sosialisasi anti narkoba dan hoax dalam refleksi sumpah pemuda 2018, yang digelar oleh Pengurus Cabang (PC) Anak Muda Indonesia (AMI), di salahsatu Gedung Madrasah di Kampung Kadugading, Desa Menes, Kecamatan Menes, Minggu (28/10/18).

Menurut Lista, penyebaran informasi yang bohong atau hoax melalui media elektronik yang membuat gaduh di kalangan masyarakat. Maka akan dapat merugikan orang lain dan diri sendiri, karena pelaku penyebar hoax akan dikenakan sanksi hukuman sesuai dalam pasal 28 ayat 2 Undang-undang IT, yakni pelaku akan dikenakan kurungan penjara selama 6 tahun dan denda sebesar Rp 1 miliar.

“Kami mengajak kepada pemerintah untuk bersama-sama melakukan sosialisasi anti hoax dan Undang-undang IT. Supaya masyarakat bisa lebih cerdas dalam membedakan isu-isu yang berkembang, mana yang hoax dan mana yang benar,” ungkapnya.

Sejauh ini lanjut Lista, upaya sosialisasi tentang Undang-undang IT yang dilakukan kepada masyarakat oleh pemerintah masih belum maksimal. Karena masih banyaknya berita-berita hoax yang disebarluaskan, makanya solusinya pemerintah harus lebih gencar lagi melakukan sosialisasi tersebut.

“Masyarakat masih banyak yang belum tahu mana berita bohong dan yang benar. Sehingga ketika ada informasi yang belum tentu jelas kebenarannya, langsung disebar dimedia sosial. Untuk itu agar masyarakat tidak terjebak dalam informasi hoax, harus memaksimalkan kegiatan sosialisasi seperti yang dilakukan oleh AMI ini,” ujarnya

Menurut Lista, berita hoax tersebut adalah sebuah informasi yang belum dibuktikan kebenarannya, jika informasi itu disebar dimedia bisa membuat gaduh dimasyarakat. Bahkan bisa merugikan pihak-pihak terkait dalam informasi hoax tersebut, maka bagi sipelaku penyebar hoax itu akan dikenakan sanki hukuman sesuai aturan yang ada.

“Tidak hanya merugikan orang lain. Namun bisa merugikan pelaku penyebar hoax juga, karena bisa dikenakan sanksi hukum,” ucapnya

Di tempat yang sama, Ketua PC AMI Pandeglang, Bambang Tri Subhi mengatakan, dilakukannya sosialisasi anti narkoba dan hoax tersebut dikarenakan sekarang ini, maraknya pengguna narkoba dan isu berita hoax. Oleh sebab itu, tujuan dari kegiatan ini untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat khususnya para pemuda, agar bisa lebih cerdas dalam menyikapi isu-isu yang berkembang sekarang ini. Selain itu juga agar anak-anak muda tidak terjerumus dalam penggunaan narkoba.

“Kami berharap melalui kegiatan ini masyarakat bisa memahami bahaya penyebaran berita hoax dan penggunaan narkoba,” pungkasnya. (Achuy)